Friday, July 1, 2011

SISTEM KEDOKTERAN KELUARGA

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Sejak 1978 ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memulai programnya “Health for All in 2000”, pelayanan kesehatan primer menjadi salah satu hal yang utama dalam pengembangan perencanaan pemerintah. Program tersebut menitikberatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif.

Pada Januari 1995 Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Dokter Keluarga Dunia yaitu World Organization of National Colleges, Academies and Academic Associatons of General Practitioner or Family Physician (WONCA) telah merumuskan sebuah visi global dan rencana tindakan (action plan) untuk meningkatkan kesehatan individu dan masyarakat yang tertuang dalam tulisan “Making Medical Practice and Education More Relevant to People’s Needs: The Role of Family Doctor”.

Dalam acara pembukaan Temu Ilmiah Akbar Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran (TIA-KPPIK) 2002 di Jakarta, Menteri Kesehatan, Achmad Sujudi, menyatakan bahwa visi dan misi kurikulum pendidikan dokter di Indonesia sepatutnya diarahkan untuk menghasilkan dokter keluarga, tidak lagi dokter komunitas atau dokter Puskesmas seperti sekarang. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 916/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Pelayanan Dokter Umum yang diarahkan menjadi pelayanan dokter keluarga.

Ilmu Kedokteran Keluarga kemudian masuk dalam Kurikulum Inti Pendidikan Dokter di Indonesia (KIPDI II) pada tahun 1993, yang merupakan bagian dari Ilmu Kedokteran Komunitas/Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Definisi dokter keluarga (DK) atau dokter praktek umum (DPU) yang dicanangkan oleh WONCA pada tahun 1991 adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran dan mengatur pelayanan oleh provider lain bila diperlukan. Dokter ini adalah seorang generalis yang menerima semua orang yang membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya pembatasan usia, jenis kelamin ataupun jenis penyakit. Dokter yang mengasuh individu sebagai bagian dari keluarga dan dalam lingkup komunitas dari individu tersebut tanpa membedakan ras, budaya dan tingkatan sosial. Secara klinis dokter ini berkompeten untuk menyediakan pelayanan dengan sangat mempertimbangkan dan memperhatikan latar budaya, sosial ekonomi dan psikologis pasien. Sebagai tambahan, dokter ini bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan bagi pasiennya (Danakusuma, 1996).

Dokter keluarga ini memiliki fungsi sebagai five stars doctor dan memiliki organisasi yang telah dibentuk yaitu PDKI dan KIKKI yang telah diketahui oleh IDI.

I.2. TUJUAN

Tujuan umum

Mengetahui tentang kedokteran keluarga beserta sistemnya.

Tujuan khusus

a. Mengetahui tentang pengertian dari kedokteran keluarga

b. Mengetahui sejarah daripada organisasi yang telah terbentuk

c. Mengetahui perbedaan antara dokter keluarga dan dokter praktek umum

I.3. MANFAAT

Menambah wawasan dan keilmuan untuk penulis serta membantu pembaca khususnya teman-teman mahasiswa lainnya untuk memahami tentang kedokteran keluarga.


BAB II

PEMBAHASAN

II.1. PENGERTIAN

Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kedokteran dan kesehatan yang bermutu dan terjangkau sudah sangat didambakan. Sehingga merupakan tugas profesi untuk mewujudkannya seoptimal mungkin agar masyarakat tetap dan semakin percaya pada sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.

Definisi dokter keluarga atau dokter praktek umum yang dicanangkan oleh WONCA pada tahun 1991 adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran dan mengatur pelayanan oleh provider lain bila diperlukan. Dokter ini adalah seorang generalis yang menerima semua orang yang membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya pembatasan usia, jenis kelamin ataupun jenis penyakit. Dokter yang mengasuh individu sebagai bagian dari keluarga dan dalam lingkup komunitas dari individu tersebut tanpa membedakan ras, budaya dan tingkatan sosial. Secara klinis dokter ini berkompeten untuk menyediakan pelayanan dengan sangat mempertimbangkan dan memperhatikan latar budaya, sosial ekonomi dan psikologis pasien. Sebagai tambahan, dokter ini bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan bagi pasiennya.

Definisi kedokteran keluarga (IKK FK-UI 1996) adalah disiplin ilmu kedokteran yang mempelajari dinamika kehidupan keluarga, pengaruh penyakit terhadap fungsi keluarga, pengaruh fungsi keluarga terhadap timbul dan berkembangnya penyakit, cara pendekatan kesehatan untuk mengembalikan fungsi tubuh sekaligus fungsi keluarga agar dalam keadaan normal. Setiap dokter yang mengabdikan dirinya dalam bidang profesi dokter maupun kesehatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan melalui pendidikan khusus di bidang kedokteran keluarga yang mempunyai wewenang untuk menjalankan praktek dokter keluarga.

Definisi kedokteran keluarga (PB IDI 1983) adalah ilmu kedokteran yang mencakup seluruh spektrum ilmu kedokteran yang orientasinya untuk memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada kesatuan individu, keluarga, masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan, ekonomi dan sosial budaya. Pelayanan kesehatan tingkat pertama dikenal sebagai primary health care, yang mencangkup tujuh pelayanan (Muhyidin, 1996) :

1. Promosi kesehatan

2. KIA

3. KB

4. Gizi

5. Kesehatan lingkungan

6. Pengendalian penyakit menular

7. Pengobatan dasar

II.2. TUJUAN PELAYANAN DOKTER KELUARGA

Tujuan pelayanan dokter keluarga mencakup bidang yang amat luas sekali. Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua macam (Azwar, 1995) :

1. Tujuan Umum

Tujuan umum pelayanan dokter keluarga adalah sama dengan tujuan pelayanan kedokteran dan atau pelayanan kesehatan pada umumnya, yakni terwujudnya keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga.

2. Tujuan Khusus

Sedangkan tujuan khusus pelayanan dokter keluarga dapat dibedakan atas dua macam :

a. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih efektif. Dibandingkan dengan pelayanan kedokteran lainnya, pelayanan dokter keluarga memang lebih efektif. Ini disebabkan karena dalam menangani suatu masalah kesehatan, perhatian tidak hanya ditujukan pada keluhan yang disampaikan saja, tetapi pada pasien sebagai manusia seutuhnya, dan bahkan sebagai bagian dari anggota keluarga dengan lingkungannya masing-masing. Dengan diperhatikannya berbagai faktor yang seperti ini, maka pengelolaan suatu masalah kesehatan akan dapat dilakukan secara sempurna dan karena itu penyelesaian suatu masalah kesehatan akan dapat pula diharapkan lebih memuaskan.

b. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih efisien. Dibandingkan dengan pelayanan kedokteran lainnya, pelayanan dokter keluarga juga lebih mengutamakan pelayanan pencegahan penyakit serta diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Dengan diutamakannya pelayanan pencegahan penyakit, maka berarti angka jatuh sakit akan menurun, yang apabila dapat dipertahankan, pada gilirannya akan berperan besar dalam menurunkan biaya kesehatan. Hal yang sama juga ditemukan pada pelayanan yang menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Karena salah satu keuntungan dari pelayanan yang seperti ini ialah dapat dihindarkannya tindakan dan atau pemeriksaan kedokteran yang berulang-ulang, yang besar peranannya dalam mencegah penghamburan dana kesehatan yang jumlahnya telah diketahui selalu bersifat terbatas.

II.3. MANFAAT PELAYANAN DOKTER KELUARGA

Apabila pelayanan dokter keluarga dapat diselenggarakan dengan baik, akan banyak manfaat yang diperoleh. Manfaat yang dimaksud antara lain adalah (Cambridge Research Institute, 1976) :

1. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai manusia seutuhnya, bukan hanya terhadap keluhan yang disampaikan.

2. Akan dapat diselenggarakan pelayanan pencegahan penyakit dan dijamin kesinambungan pelayanan kesehatan.

3. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis, pengaturannya akan lebih baik dan terarah, terutama ditengah-tengah kompleksitas pelayanan kesehatan saat ini.

4. Akan dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan berbagai masalah lainnya.

5. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan, maka segala keterangan tentang keluarga tersebut, baik keterangan kesehatan dan ataupun keterangan keadaan sosial dapat dimanfaatkan dalam menangani masalah kesehatan yang sedang dihadapi.

6. Akan dapat diperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit, termasuk faktor sosial dan psikologis.

7. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tata cara yang lebih sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan meringankan biaya kesehatan.

8. Akan dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih yang memberatkan biaya kesehatan.

II.4. FUNGSI, TUGAS DAN KOMPETENSI DOKTER KELUARGA

Dokter keluarga memiliki 5 fungsi yang dimiliki, yaitu (Azrul Azwar, dkk. 2004) :

a. Care Provider (Penyelenggara Pelayanan Kesehatan)

Yang mempertimbangkan pasien secara holistik sebagai seorang individu dan sebagai bagian integral (tak terpisahkan) dari keluarga, komunitas, lingkungannya, dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi, komprehensif, kontinu, dan personal dalam jangka waktu panjang dalam wujud hubungan profesional dokter-pasien yang saling menghargai dan mempercayai. Juga sebagai pelayanan komprehensif yang manusiawi namun tetap dapat dapat diaudit dan dipertangungjawabkan

b. Comunicator (Penghubung atau Penyampai Pesan)

Yang mampu memperkenalkan pola hidup sehat melalui penjelasan yang efektif sehingga memberdayakan pasien dan keluarganya untuk meningkatkan dan memelihara kesehatannya sendiri serta memicu perubahan cara berpikir menuju sehat dan mandiri kepada pasien dan komunitasnya

c. Decision Maker (Pembuat Keputusan)

Yang melakukan pemeriksaan pasien, pengobatan, dan pemanfaatan teknologi kedokteran berdasarkan kaidah ilmiah yang mapan dengan mempertimbangkan harapan pasien, nilai etika, “cost effectiveness” untuk kepentingan pasien sepenuhnya dan membuat keputusan klinis yang ilmiah dan empatik

d. Manager

Yang dapat berkerja secara harmonis dengan individu dan organisasi di dalam maupun di luar sistem kesehatan agar dapat memenuhi kebutuhan pasien dan komunitasnya berdasarkan data kesehatan yang ada. Menjadi dokter yang cakap memimpin klinik, sehat, sejahtera, dan bijaksana

e. Community Leader (Pemimpin Masyarakat)

Yang memperoleh kepercayaan dari komunitas pasien yang dilayaninya, menyearahkan kebutuhan kesehatan individu dan komunitasnya, memberikan nasihat kepada kelompok penduduk dan melakukan kegaiatan atas nama masyarakat dan menjadi panutan masyarakat

Selain fungsi, ada pula tugas dokter keluarga, yaitu :

a. Mendiagnosis dan memberikan pelayanan aktif saat sehat dan sakit

b. Melayani individu dan keluarganya

c. Membina dan mengikut sertakan keluarga dalam upaya penanganan penyakit

d. Menangani penyakit akut dan kronik

e. Merujuk ke dokter spesialis

Kewajiban dokter keluarga :

a. Menjunjung tinggi profesionalisme

b. Menerapkan prinsip kedokteran keluarga dalam praktek

c. Bekerja dalam tim kesehatan

d. Menjadi sumber daya kesehatan

e. Melakukan riset untuk pengembangan layanan primer

Kompetensi dokter keluarga yang tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter Keluarga yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia tahun 2006 adalah (Danasari, 2008) :

a. Keterampilan komunikasi efektif

b. Keterampilan klinik dasar

c. Keterampilan menerapkan dasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga

d. Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan, terkoordinir dan bekerja sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer

e. Memanfaatkan, menilai secara kritis dan mengelola informasi

f. Mawas diri dan pengembangan diri atau belajar sepanjang hayat

g. Etika moral dan profesionalisme dalam praktek

II.5. ORGANISASI PADA DOKTER KELUARGA

Pada dokter keluarga, memiliki 2 organisasi yang akan dibahas sebagai berikut :

a. Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI)

Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) yang saat ini seluruh anggotanya adalah Dokter Praktik Umum (DPU) yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Jumlah anggota yang telah mendaftar sekitar 3000 orang. Semua anggota PDKI adalah anggota IDI. PDKI merupakan organisasi profesi dokter penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat primer yang utama.

Ciri dokter layanan primer adalah (Danasari, 2008) :

1. Menjadi kontak pertama dengan pasien dan memberi pembinaan berkelanjutan (continuing care)

2. Membuat diagnosis medis dan penangannnya

3. Membuat diagnosis psikologis dan penangannya

4. Memberi dukungan personal bagi setiap pasien dengan berbagai latar belakang dan berbagai stadium penyakit

5. Mengkomunikasikan informasi tentang pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan prognosis

6. Melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit kronik dan kecacatan melalui penilaian risiko, pendidikan kesehatan, deteksi dini penyakit, terapi preventif, dan perubahan perilaku.

Setiap dokter yang menyelenggarakan pelayanan seperti di atas dapat menjadi anggota PDKI. Anggota PDKI adalah semua dokter penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat primer baik yang baru lulus maupun yang telah lama berpraktik sebagai Dokter Praktik Umum.

Dokter penyelenggara tingkat primer, yaitu :

1. Dokter praktik umum yang praktik pribadi

2. Dokter keluarga yang praktik pribadi

3. Dokter layanan primer lainnya seperti :

a. Dokter praktik umum yang bersama

b. Dokter perusahaan

c. Dokter bandara

d. Dokter pelabuhan

e. Dokter kampus

f. Dokter pesantren

g. Dokter haji

h. Dokter puskesmas

i. Dokter yang bekerja di unit gawat darurat

j. Dokter yang bekerja di poliklinik umum RS

k. Dokter praktik umum yang bekerja di bagian pelayanan khusus

Sejarah PDKI

PDKI pada awalnya merupakan sebuah kelompok studi yang bernama Kelompok Studi Dokter Keluarga (KSDK, 1983), sebuah organisasi dokter seminat di bawah IDI. Anggotanya beragam, terdiri atas dokter praktik umum dan dokter spesialis. Pada tahun 1986, menjadi anggota organisasi dokter keluarga sedunia (WONCA). Pada tahun 1990, setelah Kongres Nasional di Bogor, yang bersamaan dengan Kongres Dokter Keluarga Asia-Pasifik di Bali, namanya diubah menjadi Kolese Dokter Keluarga Indonesia (KDKI), namun tetap sebagai organisasi dokter seminat. Pada tahun 2003, dalam Kongres Nasional di Surabaya, ditasbihkan sebagai perhimpunan profesi, yang anggotanya terdiri atas dokter praktik umum, dengan nama Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), namun saat itu belum mempunyai kolegium yang berfungsi.

Dalam Kongres Nasional di Makassar 2006 didirikan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga (KIKK) dan telah dilaporkan ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Masyarakat Kestabilan dan Kendali Indonesia (MKKI).

Continuing Professional Development (CPD) yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) adalah :

1. Pelatihan Paket A : Pengenalan Konsep Dokter Keluarga

2. Pelatihan Paket B : Manajemen Pelayanan Dokter Keluarga

3. Pelatihan Paket C : Pengetahuan Medis Dasar dan Keterampilan Teknis Medis

4. Pelatihan Paket D : Pengetahuan Mutakhir Kedokteran

5. Konversi DPU menjadi DK bagi dokter yang telah praktek 5 tahun atau lebih dan masih punya izin praktek dengan mengisi borang yang telah disediakan sampai tahun 2012, setelah itu bila ingin jadi dokter keluarga harus mengikuti pendidikan formal baik S2 atau spesialis DK

6. Pengisian modul DK

7. Kerja sama dengan Australia dengan mengisi modul online

b. Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia ( KIKKI )

Dipilih dalam Kongres Nasional VII di Makassar 30 Agustus 2006 – 2 September 2006, dan telah dilaporkan ke PB IDI Pusat dan MKKI. Kolegium memang harus ada dalam sebuah organisasi profesi. Jadi PDKI harus mempunyai kolegium yang akan memberikan pengakuan kompetensi keprofesian kepada setiap anggotanya. Dalam PDKI lembaga ini yang diangkat oleh kongres dan bertugas sebagai berikut :

1. Melaksanakan isi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta semua keputusan yang ditetapkan kongres

2. Mempunyai kewenangan menetapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga

3. Mengkoordinasikan kegiatan kolegium kedokteran

4. Mewakili PDKI dalam pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga

5. Menetapkan program studi pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga beserta kurikulumnya

6. Menetapkan kebijakan dan pengendalian uji kompetensi nasional pendidikan profesi kedokteran keluarga

7. Menetapkan pengakuan keahlian (sertfikasi dan resertifikasi)

8. Menetapkan kebijakan akreditasi pusat pendidikan dan rumah sakit pendidikan untuk pendidikan dokter keluarga

9. Mengembangkan sistem informasi pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga

Angota KIKK terdiri atas anggota PDKI yang dinilai mempunyai tingkat integritas dan kepakaran yang tinggi untuk menilai kompetensi keprofesian anggotanya. Atas anjuran dan himbauan IDI sebaiknya KIKK digabung dengan KDI karena keduanya menerbitan sertifikat kompetensi untuk Dokter Pelayanan Primer (DPP). Setelah melalui diskusi yang berkepanjangan akhirnya bergabung dengan nama Kolegium Dokter dan Dokter Keluarga (KDDKI) yang untuk sementara melanjutkan tugas masing-masing, unsur KDI memberikan sertifikat kepada dokter yang baru lulus sedangkan unsur KIKK memberikan sertifikat kompetensi (resertifikasi) kepada DPP yang akan mendaftar kembali ke KKI (Qomariah, 2000).

II.6. PERBEDAAN DOKTER PRAKTEK UMUM DAN DOKTER KELUARGA

Tabel ini menjelaskan tentang perbedaan antara dokter praktek umum dengan dokter keluarga (Qomariah, 2000) :

DOKTER PRAKTEK UMUM

DOKTER KELUARGA

Cakupan Pelayanan

Terbatas

Lebih Luas

Sifat Pelayanan

Sesuai Keluhan

Menyeluruh, Paripurna, bukan sekedar yang dikeluhkan

Cara Pelayanan

Kasus per kasus dengan pengamatan sesaat

Kasus per kasus dengan berkesinambungan sepanjang hayat

Jenis Pelayanan

Lebih kuratif hanya untuk penyakit tertentu

Lebih kearah pencegahan, tanpa mengabaikan pengobatan dan rehabilitasi

Peran keluarga

Kurang dipertimbangkan

Lebih diperhatikan dan dilibatkan

Promotif dan pencegahan

Tidak jadi perhatian

Jadi perhatian utama

Hubungan dokter-pasien

Dokter – pasien

Dokter – pasien – teman sejawat dan konsultan

Awal pelayanan

Secara individual

Secara individual sebagai bagian dari keluarga komunitas dan lingkungan

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

III.1. KESIMPULAN

Dokter keluarga merupakan profesi dokter yang dapat mencegah terjadinya pembengkakkan biaya dengan cara memperhatikan riwayat daripada suatu keluarga. Dengan tindakan seperti itulah dokter keluarga dapat mencegah penyakit yang akan timbul. Dan ini pula yang dilewati oleh dokter praktek umum.

Dokter keluarga juga dapat berperan sebagaimana layaknya dokter praktek umum, yaitu sama-sama sebagai five stars doctor dimana mereka menjadi communicator, care provider, decision maker, community leader dan manager. Selain itu juga, dokter keluarga tergabung dalam organisasi Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) dan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia (KIKKI).

PDKI terbentuk pada tahun 2003 dengan anggotanya adalah dokter praktik umum (IDI) yang juga bekerja sebagai pelayanan jasa primer. Kemudian, pada kongres selanjutnya mendirikan kolega yaitu Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia (KIKKI).

Namun, ada juga perbedaan antara dokter praktik umum dan dokter keluarga yang dapat dilihat dari cakupan pelayanan, sifat pelayanan, cara pelayanan, jenis pelayanan, dan lain-lain.

III.2. SARAN

Jadilah seorang dokter yang profesional sehingga dapat dipercaya oleh banyak orang.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Azwar, Azrul. 1995. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. IDI : Jakarta
  2. Azwar, Azrul ; Gan, Goh Lee ; Wonodirekso, Sugito. 2004. A Primer On Family Medicine Practice. Singapore International Foundation : Singapore
  3. Danakusuma, Muhyidin. 1996. Pengantar Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas. IDI : Jakarta
  4. Danasari. 2008. Standar Kompetensi Dokter Keluarga. PDKI : Jakarta
  5. Qomariah. 2000. Sekilas Kedokteran Keluarga. FK-Yarsi : Jakarta

Friday, April 1, 2011

ELASTIC ARTERIES

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Sistem sirkulasi adalah untuk memenuhi kebutuhan jaringan tubuh, mentransport zat makanan ke jaringan tubuh, mentranspor produk-produk yang tidak berguna, dan menghantarkan hormon dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lainnya.

Sistem sirkulasi dibagi menjadi sistem peredaran darah yang terdiri dari jantung dan pembuluh darah, serta sistem limfatik. Sistem peredaran darah terdiri dari jantung, arteri, kapiler dan vena. Jantung merupakan organ berotot, terletak di dalam rongga thorax yang memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh arteri. Arteri akan bercabang menjadi arteri besar, arteri sedang dan bercabang-cabang secara luas sampai menjadi arteri-arteri kecil yang disebut arteriola. Selanjutnya akan membentuk anyaman pembuluh darah halus yang disebut kapiler. Kemudian darah dikumpulkan kembali melalui pembuluh balik kecil yang disebut venula. Venula akan saling bergabung membentuk vena lebih besar yang akhirnya menjadi vena besar yang disebut vena cava superior dan inferior. Vena cava akan membawa darah kembali ke jantung sebelah kanan.

Keelastisan pembuluh darah tergantung pada membran dan sel-sel yang membentuk dinding pembuluh darah. Misalnya aorta dan a.carotis communis yang merupakan arteri besar pada dinding yang berisi sejumlah membran elastis dan karenanya disebut arteria tipe elastis. Hal ini berkaitan dengan fungsi arteri yaitu mentranspor darah ke jaringan di bawah tekanan yang tinggi sehingga dinding arteri harus kuat dan darah mengalir dengan kecepatan yang tinggi.

2. TUJUAN

Tujuan umum

Mengetahui tentang elastic arteries

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Tujuan khusus

  1. Mengetahui tentang struktur dinding elastic arteries
  2. Mengetahui fungsi elastic arteries
  3. Mengetahui percabangan elastic arteries

3. MANFAAT

Menambah wawasan dan keilmuan penulis serta membantu mahasiswa lainnya untuk memahami tentang elastic arteries.



Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

BAB II

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN

Arteri adalah suatu struktur yang mengangkut darah ke jaringan dan tahan terhadap perubahan tekanan darah pada bagian awal dan mengatur aliran darah pada bagian terminal. Fungsi arteri adalah untuk mentranspor darah ke jaringan di bawah tekanan yang tinggi. Karena alasan inilah, arteri mempunyai dinding pembuluh darah yang kuat, dan darah mengalir dengan kecepatan yang tingggi di arteri. Arteri pun memiliki dinding pembuluh yang tebal dengan suatu pengecualian, mereka membawa darah teroksigenisasi. Pengecualian tersebut adalah untuk trunkus pulmoner, yang bercabang menjadi dua arteri pulmoner dan, yang membawa darah deoksigenasi dari ventrikel kanan ke dalam paru-paru. (Guyton and Hall, 2008).

Arteria membawa darah dari jantung dan mendistribusikannya ke seluruh jaringan tubuh melalui cabang-cabangnya. Arteria yang terkecil, diameternya kurang dari 0,1 mm, disebut arteriola. Persatuan antara cabang-cabang arteria disebut anastomosis dan arteria tidak memiliki katup.

End artery anatomik adalah pembuluh darah yang cabang-cabang terminalnya tidak beranastomosis dengan cabang-cabang arteria yang mendarahi daerah yang berdekatan. End artery fungsional adalah pembuluh darah yang cabang-cabangnya beranastomosis dengan cabang-cabang terminal arteria yang ada di dekatnya, tetapi besarnya anastomosis tidak cukup untuk mempertahankan jaringan tetap hidup bila salah satu arteria tersumbat.

Arteri digolongkan berdasarkan ukurannya menjadi arteriol, arteri muskular dan arteri elastis besar. Umumnya dinding arteri lebih tebal dari dinding vena.

2. JENIS – JENIS DAN STRUKTUR ARTERI

Telah disebutkan bahwa arteri dapat digolongkan menjadi arteri tipe elastis (arteri besar), arteri muskular
(arteri sedang), dan arteriola.
Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

2.1. Arteri Elastis Besar

Adalah pangkal arteri pada ventrikel dan beberapa arteri besar yang dekat jantung. Arteri besar disebut juga arteri konduksi karena fungsi utamanya ialah mengangkut darah keluar dari jantung. Arteri ini juga berfungsi untuk meredakan fluktuasi besar dalam tekanan yang ditimbulkan oleh denyut jantung. Selama kontraksi ventrikel (sistole), lamina elastis arteri konduksi diregangkan dan mengurangi perubahan tekanan. Selama relaksasi ventrikel (diastole), tekanan ventrikel turun cukup besar, namun tekanan balik elastis pada arteri konduksi membantu mempertahankan tekanan arteri. Akibatnya tekanan arteri dan aliran darah menurun dan menjadi kurang bervariasi karena makin menjauhi jantung.

Arteri elastis besar ini memiliki diameter sekitar 2,5 cm pada orang dewasa dan tebal dindingnya sekitar 1,5 mm. Contoh khasnya adalah aorta, trunkus pulmonalis, arteria pulmonalis, arteria karotis komunis dan arteria subklavia. Aorta merupakan arteri elastis yang utama.

Tunica intima lapisan terdalam dibina atas selapis sel endotel, dan di bawahnya ada lapisan subendotel yang mengandung serat jaringan ikat yang terdiri dari serat elastis dan sedikit serat otot polos. Ke bawah dari jaringan ikat ini ada membrana elastica interna, yang mengandung serat elastis yang bersusun rapat membentuk berkas.

Tunica media dibina terutama atas otot polos dan serat elastis. Ada pula sedikit serat kolagen dan urat saraf. Lapisan ini sangat tebal dan inilah yang membuat pembuluh elastis ini jadi sangat bingkas. Pada lapisan ini, di daerah pangkal lebih banyak serat elastis daripada serat otot polos dan makin jauh dari jantung jumlah serat elastis menyusut dan serat otot bertambah.

Dalam lapisan ini ada vasa vasorum, yakni pembuluh darah di dalam pembuluh darah. Diameter > 1 mm. Berasal dari arteri yang berdekatan dan bercabang masuk ke ketiga lapisan, terutama tunica media. Berbatasan dengan tunica adventitia, serat elastis membentuk berkas disebut membrana elastica externa.

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Tunica adventitia dibina terutama atas jaringan ikat, berupa serat kolagen dan sedikit serat elastis. Disini terdapat pula vasa vasorum dan urat saraf, yang bercabang dan masuk ke tunica media.










2.2. Arteri Muskuler

Merupakan bagian arteria yang terbanyak terdapat dalam tubuh. Nama lainnya adalah arteria distribusi,
karena arteria tipe muskular
Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

mengontrol distribusi darah arteri ke berbagai bagian tubuh. Arteria tipe muskular ukurannya lebih bervariasi daripada arteria tipe elastis, diameter potongan melintang berkisar antara 10 mm sampai 0,1 mm. Dindingnya relatif tebal dibanding diameter pembuluh, terutama banyak sekali otot polos di tunika media.

Tunica intima di arteria tipe muscular yang terdiri hanya sel-sel endotel yang gepeng yang berhubungan langsung dengan lamina elastika interna. Sel-sel endotel ini mempunyai tonjolan-tonjolan di bagian basal yang menembus lamina elastika interna dan berhubungan dengan sel-sel otot polos di bawahnya. Endotel sama dengan yang terdapat di arteria tipe elastis, sel-selnya dihubungkan oleh taut kedap dan neksus dengan struktur yang sama. Pada arteria tipe muskular yang ukurannya lebih besar, terdapat jaringan ikat subendotel, terletak diantara lamina basalis yang tipis dan lamina elastika interna. Jaringan ikat subendotel pada berbagai arteria misalnya arteria koronaria, mungkin berisi sel-sel otot polos yang berjalan longitudinal.

Lamina elastika interna berkembang baik pada arteria tipe muskular dan dalam sajian yang diwarnai dengan hematoksilin dan eosin tampak sebagai garis-garis refraktil bergelombang berwarna merah pada potongan melintang arteria tipe muskular. Susunan bergelombang ini karena dinding pembuluh mempunyai otot polos dalam jumlah yang banyak, berkontraksi setelah mati (kontraksi agonal) sehingga menyebabkan lipatan longitudinal di lamina elastika interna.

Tunica media pada arteria tipe muskular yang lebih besar berisi 10-40 lapisan sel-sel otot polos yang tersusun konsentris, sedangkan pada arteri kecil ada sekitar 4-10 lapisan. Tunika media relatif tipis di arteria meningea dan arteria serebralis. Sel-sel otot polos adalah satu-satunya sel di tunika media dan terbenam dalam matriks glikoprotein yang berwarna gelap dengan reaksi PAS. Selain itu juga terdapat serat kolagen dan serat elastis.

Pada tempat peralihan ke tunika adventisia, lamina elastika eksterna merupakan batas peralihan
pada arteri tipe muskular yang besar, meskipun ini kurang berkembang bila dibandingkan dengan
Normal 0 false false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

lamina elastika interna. Pada arteria kecil, lamina elastika eksterna ini putus-putus atau tidak ada sama sekali.

Tunica adventisia tebal pada arteri tipe muskular, bahkan kadang-kadang lebih tebal dari tunika media. Tunika adventisia terdiri atas jaringan ikat yang agak longgar, dimana serat-serat kolagen dan elastis tersusun longitudinal. Tunika adventisia berisi vasa vasorum dan sejumlah serat saraf, dimana serat saraf ini mencapai bagian luar tunika media.


2.3. Arteriol

Peralihan dari suatu arteri kecil ke arteriol adalah secara bertahap, tetapi arteriol disebut sebagai pembuluh darah arterial dengan diameter kurang dari 100 µm. Dindingnya hanya terdiri atas 1-3 lapis otot polos yang tersusun sirkular.

Tunika intima terdiri atas sel endotel yang gepeng yang tersusun memanjang dalam arah longitudinal. Sel-sel ini dihubungkan melalui taut kedap dan neksus serupa dengan arteri yang dijelaskan sebelumnya. Dari bagian basal sel-sel endotel ada tonjolan-tonjolan menembus lamina basalis yang tipis dan lamina elastika interna untuk membentuk hubungan otot endotel dengan sel-sel otot polos tunika media. Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Pada arteriol, biasanya terdapat lamina elastika interna yang berkembang relatif baik. Namun lamina ini tidak ditemukan dibagian akhir arteriol dan disebut metarteriol.

Tunica media terdiri atas 1-3 lapis otot polos yang tersusun sirkular.

Tunica adventisia terdiri atas jaringan ikat jarang yang berisi sedikit fibroblas dan serat-serat kolagen dan elastis yang tersusun longitudinal. Lamina elastika eksterna tidak terdapat pada arteriol.

Bagian akhir arteriol disebut metarteriol atau daerah sfingter prekapiler. Pembuluh ini mengatur aliran darah ke jala-jala kapilar dengan mengatur diameter lumen. Metarteriol di daerah sfingter prekapilar panjangnya bervariasi dari 50-100 µm. Diameter lumen secara bertahap berkurang dari 30 sampai 8 µm. Sel-sel endotel terletak di atas lamina basalis yang tipis, dikelilingi oleh sedikit otot polos yang tersebar. Otot polos ini mungkin tampak hubungan otot endotel dengan sel-sel endotel. Hanya sedikit sekali terdapat jaringan ikat perivaskular mengelilingi metarteriol.

Jaringan ikat ini berhubungan dengan jaringan ikat sekitarnya. Serat saraf tidak bermielin tampak mengelilingi otot polos. Ini menunjukkan bahwa persarafan simpatis yang menyebabkan metarteriol berkontraksi dan berelaksasi secara bergantian. (Krause’s Essential Human Histology for Medical Student, 2005)

3. FUNGSI ARTERI

Arteri besar juga disebut arteri konduksi, karena fungsi utamanya ialah mengangkut darah keluar dari jantung. Arteri ini juga berfungsi untuk meredakan fluktuasi besar dalam tekanan yang ditimbulkan oleh denyut jantung. Selama kontraksi ventrikel (sistole), lamina elastis arteri konduksi diregangkan dan mengurangi perubahan tekanan. Selama relaksasi ventrikel (diastole), tekanan ventrikel turun cukup besar, namun tekanan balik elastis pada arteri konduksi membantu mempertahankan tekanan arteri. Akibatnya tekanan arteri dan aliran darah menurun dan menjadi kurang bervariasi karena makin menjauhi jantung. Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Fungsi arteri sedang, juga dikenal dengan arteri distribusi, ialah membawa darah ke berbagai organ. Lapisan muskular dalam arteri sedang dapat mengatur aliran darah ke berbagai organ dengan berkontraksi atau tidak berkontraksi (sebagai akibat masukan neural atau kimiawi lokal yang lebih umum). (Histologi Dasar Teks & Atlas ed.10, 2007)

4. PERCABANGAN ARTERI

Arteri paling besar itu meliputi Aorta, a. Carotis communis, a. Anonyma, a. Subclavia. Aorta merupakan arteri utama yang membawa darah yang kaya oksigen dari ventriculus sinister jantung ke jaringan-jaringan di dalam tubuh. Untuk kepentingan uraian, aorta terbagi atas sebagai berikut : aorta descendens, arcus aortae, aorta thoracica dan aorta abdominalis.

Aorta ascendens mulai dari basis ventriculus sinister dan berjalan ke atas dan depan sehingga terletak di belakang pertengahan kanan sternum setinggi angulus sterni, tempat pembuluh nadi ini melanjutkan diri menjadi arcus aortae. Aorta ascendens terletak di dalam pericardium fibrosum dan terbungkus bersama dengan truncus pulmonalis di dalam sarung pericardium serosum. Pada pangkalnya terdapat tiga tonjolan sinus aortae yang masing-masing terletak di belakang cuspis valva aortae.

Arteria coronaria dextra berasal dari sinus anterior aortae dan arteria coronaria sinistra berasal dari sinus posterior sinistra aortae.

Arcus aortae merupakan lanjutan aorta ascendens. Pembuluh ini terletak di belakang manubrium sterni dan berjalan ke atas, belakang dan kiri di depan trachea (arah utamanya adalah ke belakang). Kemudian pembuluh ini berjalan ke bawah di sebelah kiri trachea dan setinggi angulus sterni melanjutkan diri sebagai aorta descendens.

Truncus brachiocephalicus berasal dari permukaan cembung arcus aortae. Pembuluh ini berjalan ke atas dan di sebelah kanan trachea dan bercabang dua menjadi arteria subclavia dextra dan arteria carotis communis dextra di belakang articulatio sternoclavicularis dextra.

Arteria carotis communis sinistra berasal dari permukaan cembung arcus aortae di sebelah kiri truncus brachiocephalicus. Pembuluh ini berjalan ke atas dan di sebelah kiri trachea dan masuk ke leher di belakang articulatio sternoclavicularis sinistra. Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Arteria subclavia sinistra berasal dari arcus aortae di belakang arteri carotis communis sinistra. Berjalan ke atas sepanjang sisi kiri trachea dan oesophagus untuk masuk ke pangkal leher. Pembuluh ini melengkung di permukaan atas apex pulmo sinister.

Aorta thoracica terletak di dalam mediastinum posterior dan mulai sebagai lanjutan arcus aortae di sebelah kiri pinggir bawah corpus vertebra thoracica IV (setinggi angulus sterni). Kemudian berjalan turun ke bawah di dalam mediastinum posterior, miring ke depan dan medial untuk mencapai permukaan anterior columna vertebralis. Setinggi vertebra thoracica XII pembuluh ini berjalan di belakang diaphragma (melalui hiatus aorticus) pada garis tengah dan melanjutkan diri sebagai aorta abdominalis.

Arteriae intercostales posterior dipercabangkan untuk sembilan spatium intercostale bagian bawah pada masing-masing sisi. Arteriae subcostales dipercabangkan pada masing-masing sisi dan berjalan sepanjang pinggir bawah costa XII untuk masuk ke dinding abdomen.

Rami pericardiaci, oesophageales dan bronchiales merupakan cabang-cabang kecil yang menuju ke organ-organ tersebut.

Truncus pulmonalis membawa darah yang terdeoksigenasi dari ventriculus dexter jantung menuju ke paru. Pembuluh ini meninggalkan bagian atas ventriculus dexter dan berjalan ke atas, belakang dan kiri. Panjangnya sekitar 5cm dan berakhir pada bagian cekung arcus aorta dengan bercabang dua menjadi arteri pulmonalis dextra dan sinistra. Bersama-sama dengan aorta ascendens pembuluh ini dibungkus oleh selubung pericardium serosum.

Arteria pulmonalis dextra berjalan ke kanan di belakang aorta ascendens dan vena cava superior untuk masuk ke radix pulmonalis dextra.

Arteri pulmonalis sinistra berjalan ke kiri di depan aorta descendens untuk masuk ke radix pulmonis sinistra.

Ligamentum arteriosum merupakan pita fibrosa yang menghubungkan bifurcatio trunci pulmonalis
dengan permukaan cekung arcus aortae. Ligamentum arteriosum merupakan sisa ductus arteriosus, yang
pada janin mengalirkan darah dari truncus pulmonalis ke aorta, jadi tidak melalui paru. Nervus laryngeus
recurrens sinistra melingkari pinggir bawah struktur ini. Setelah lahir, ductus menutup. Bila ductus ini
tetap terbuka, darah dari aorta
Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 akan masuk ke sirkulasi paru, mengakibatkan terjadinya hipertensi
pulmonal dan hipertrofi ventriculus dexter. Dengan demikian tindakan ligasi ductus ini perlu dilakukan.
(Anatomi Klinik Dasar, 2006)



BAB III

KESIMPULAN

III.1. KESIMPULAN

Arteri adalah suatu struktur yang mengangkut darah ke jaringan dan tahan terhadap perubahan tekanan darah pada bagian awal dan mengatur aliran darah pada bagian terminal. Fungsi arteri adalah untuk mentranspor darah ke jaringan di bawah tekanan yang tinggi. Karena alasan inilah, arteri mempunyai dinding pembuluh darah yang kuat, dan darah mengalir dengan kecepatan yang tingggi di arteri.

Arteri memiliki 3 macam jenis yaitu elastis, muskular dan arteriol. Masing – masing arteri tersebut memiliki 3 lapisan dari luar ke dalam yaitu tunica intima (endotel, subendotel, jaringan ikat longgar, jaringan membran, kadang-kadang ada otot), tunica media (sel otot polos tersusun sirkuler disertai jaringan ikat kolagen dan elastis, membrane elastika interna, membrane elastika eksterna dan pembuluh darah banyak) dan tunica adventitia (jaringan ikat kolagen dan elastis, pada pembuluh darah besar terdapat vassa vasorum).

.2. SARAN

Sebaiknya kita selalu menjaga kesehatan dengan cara pola hidup yang baik yaitu olahraga yang teratur dan
cukup, makan-makanan yang bergizi dan hindari makanan lemak jahat serta kolesterol yang dapat
menyebabkan penyakit mematikan. Karena kesehatan adalah sebagian dari iman.

DAFTAR PUSTAKA


  1. Guyton, Arthur C. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC : Jakarta.

  2. Junqueira, L.C and Carneiro, Jose. 2007. Histologi Dasar Teks & Atlas ed.10. EGC : Jakarta.

  3. Krause, William J. 2005. Krause’s Essential Human Histology For Medical Students 3rd edition. Universal Publisher : USA.

4. Moore, Keith L. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Hipokrates : Jakarta.

5. P. Eroschenko, Victor. 2003. Atlas Histologi diFiore dengan Korelasi Fungsional ed.9. EGC : Jakarta.

6. Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinis Dasar ed.6. EGC : Jakarta.


<!--> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4